Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Fasada yang Dilemmatis, dalam Menghadapi Abad ke-21

Kata fasada dalam judul di atas itu adalah bahasa Al Quran yang berarti merusak. Begitu Allah SWT memberitahu para malaikat: Inniy Jaa'ilun fiy lArdhi Khalifatan, sesungguhnya akan Kujadikan khalifah di bumi, para malaikat mengemukakan kata fasada tersebut. Ataj'alu fiyhaa Man Yufsidu fiyhaa, apakah Engkau akan menjadikan di atasnya yang akan merusak di atasnya? (S.Al Baqarah, 2:30). Akan dikemukakan lagi tiga ayat yang mengandung kata fasada ini. Wa idzaa Qiyla lahum laa Tufsiduw fiy lArdhi Qaaluw Innamaa Nahnu Mushlihuwna, apabila dikatakan kepada mereka janganlah kamu merusak di atas bumi, mereka berkata, sesungguhnya kami hanya berbuat baik. (S.Al Baqarah, 2:11) Alaa innahum Humu lMufsiduwna wala-kin Laa Yasy'uruwna, ketahuilah, sesungguhnya mereka itu merusak tetapi mereka tidak sadar. (S. Al Baqarah, 2:12) Zhahara lFasaadu fiy lBarri wa lBahri Bimaa Kasabat Aydi nNaasi, muncullah kerusakan di darat dan di laut akibat tangan-tangan manusia. (S.Ar Ruwm 41) Dorongan Al H...

Kata Pungut yang Menimbulkan Kerancuan

Suatu hal yang biasa apabila kata-kata pungut yang dipungut dari bahasa asing, jika sudah menjadi bahasa Indonesia (dan bahasa lain tentunya) akan berubah maknanya. Ambillah misalnya kata logat yang dipungut dari bahasa Arab Al Lughatu (dibaca Al Lughah). Dalam proses memungut ini terjadi penyempitan makna. Logat dalam bahasa Indonesia bermakna dialek, sedangkan Al Lughatu berarti bahasa. Sebaliknya pemungutan kata kalimat dan bahasa Arab Al Kalimatu (juga dibaca Al Kalimah), terjadi perluasan makna. Kalimat berarti susunan kata kata yang berstruktur, yang dalam bahasa Inggerisnya disebut sentence. Sedangkan Al Kalimatu bermakna kata, yaitu word dalam bahasa Inggerisnya. Bahkan pemungutan itu ada yang berubah sama sekali maknanya, seperti misalnya kata jumlah yang dipungut dan Al Jumlatu. Jumlah benmakna hasil pertambahan, sedangkan Al Jumlatu bermakna kalimat, sentence. Oleh sebab itu dalam suatu diskusi perlu sekali diperjelas istilah-istilah yang dipungut dari bahasa Arab, lebih-leb...

Mazmur 104:24-27 dari Nabi Daud AS vs Akhenaton's Hymns to the Aton

Telah berulang kali baik dalam media cetak, maupun dalam forum seminar, simposium, diskusi dan da'wah, saya tampilkan bahwa sains itu tidak polos, melainkan memihak kepada faham atheist, agnostik, sekuler, yaitu faham yang bersikap tidak percaya, tidak mau tahu, dan tidak mengindahkan wahyu. Tidak terkecuali ilmu sejarah dan kebudayaan yang menempatkan agama dalam posisi menjadi bagian dari kebudayaan. Adapun yang percaya kepada wahyu membagi agama itu dalam dua jenis, yaitu agama wahyu yang akarnya non-historis yang bersumber dari wahyu Allah SWT dan jenis agama kebudayaan yang akarnya historis. Agama wahyu bukanlah bagian dari kebudayaan, agama wahyu memberikan warna dan nuansa pada kebudayaan. Contohnya kebudayaan Islam adalah kebudayaan yang bernuansa dan diwarnai oleh nilai-nilai al Furqan dalam Syari'at Islam. Sedangkan jenis agama kebudayaan yang akarnya historis adalah produk kebudayaan suatu bangsa. Agama kebudayaan adalah bagian dari kebudayaan. Contohnya agama Mesir ...

'Umar ibn Khattab dan Khalid ibn Walid, Dialog antara Kahalifah dengan Panglima Perangnya

Keduanya sebaya, teman bergelut pada waktu masih anak-anak. Setelah Nabi Muhammad RasuluLlah SAW membawakan risalah, keduanya menjadi penantang sengit. Umar ibn Khattablah yang pergi menghadap Najasah (Negus) Raja Habasyah (Abessinia) meminta kepada raja itu untuk menyerahkan semua Ummat islam yang hijrah ke kerajaah itu, namun permintaan Umar itu ditolak oleh Najasah. Seperti diketahui dalam sejarah, hijrah yang pertama adalah ke Habasyah. 'Umar men4ahului Khalid masuk Islam, masih dalam perio Makkah. Adapun Khalid ibn Walid masuk Islam pada periode Madinah. Ia adalah komandan pasukan berkuda angkatan perang Quraisy. Pasukan berkuda Khalid inilah yang mernusuk pasukan Islam dan belakang pada Perang Uhud. Matanya yang jeli dapat melihat pasukan pemanah yang menjaga barisan belakang pasukaln Islam di celah bukit Uhud meninggalkan posnya karena melihat pertempuran sudah dimenangkan pasukan Islam. Padahal RasuluLlah SAW telah memerintahkan kepada pasukan pemanah yang menjaga celah buk...