Langsung ke konten utama

Shalat, Kepemimpinan dan Kepengikutan

Saya teringat sebuah peristiwa bertahun-tahun yang silam. Kejadiannya dalam bulan Rajab. Allahu yarham H. AbdulGhani, imam tetap Masjid Syura waktu itu sedang mengimami shalat Maghrib. Sementara membaca pangumpu' beliau diserang batuk. Beliau lalu meningkir ke samping, lalu Drs Sulthan BM, yang sekarang menjadi salah seorang imam tetap Masjid Syura maju ke depan melanjutkan mengimami shalat Maghrib, bacaan pangumpu' disambung dan gerak shalat diteruskan. Allahu yarham H. AbdulGhani keluar melalui pintu samping mihrab, kemudian setelah serangan batuknya pulih ikut kembali shalat berjama'ah menjadi makmum dengan masbuk dengan menempati shaf paling belakang.

Sekarang ini sudah masuk lagi bulan Rajab, itulah sebabnya saya teringat akan peristiwa pergantian keimaman dalam shalat Maghrib di Masjid Syura tersebut. Bahkan dalam bulan Rajab ada suatu peristiwa yang sangat penting yang selalu diperingati oleh ummat Islam sedunia, peristiwa Isra' dan Mi'raj. Tulisan ini akan membicarakan secuil dari sekian banyak segi dalam meresapi makna Isra' dan Mi'raj itu. Akan dibatasi hanya dalam hal hasil yang dibawa pulang oleh RasululLah SAW dari Mi'raj beliau, yaitu shalat. Itupun hanya menyangkut dengan apa yang tertera dalam judul di atas, Kepemimpinan dan Kepengikutan.

Shalat adalah bahasa Al Quran, biasanya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan sembahyang, ataupun misalnya to pray, bidden dalam bahasa Inggeris dan Belanda. Terjemahan-terjemahan itu tidaklah mencakup makna yang sebenarnya. To pray dan bidden adalah berdoa, dan berdoa itu hanya merupakan bagian dari shalat. Adapun terjemahan dengan sembahyang juga tidak kena. Bukan karena semata-semata "yang" itu dari "hyang" maka terjemahan itu tidak kena, melainkan lebih dari itu. Shalat esensinya bukan menyembah, melainkan berzikir, mengingat, jadi juga bukan mengheningkan cipta. Maka sebaiknya shalat itu tidak usah diterjemahkan. Dalam bahasa daerah Sunda tidak diterjemahkan, tetap shalat.

Ajaran Islam tentang kepemimpinan dan kepengikutan dapat kita simak dari shalat. Kepemimpinan dan kepengikutan tidak boleh lepas dari kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan sosial. Perhatikanlah misalnya dalam shalat maghrib, 'isya, zhuhur, di mesjid. Setelah selesai shalat berjama'ah, bersama-sama shalat diimami oleh imam, lalu masing-masing melanjutkan shalat sunnat. Atau sebaliknya, sebelum shalat subuh, zhuhur dan 'ashar masing-masing secara individual shalat sunnat, baru dilanjutkan dengan shalat berjama'ah. Kalau tadi pada waktu shalat berjama'ah menggambarkan suatu jama'ah, komunitas, maka pada waktu shalat sunnat menggambarkan suatu hal yang menunjukkan perorangan. Artinya shalat berjama'ah diikuti oleh shalat sunnat, atau sebaliknya shalat sunnat diikuti shalat berjama'ah, menggambarkan makhluk sosial dan makhluk pribadi.

Seorang imam yang merasa tidak sanggup lagi memimpin shalat, dia minggir secara "legowo", seperti yang dilakukan oleh Allahu yarham H.AbdulGhani. Dalam konstruksi mesjid, pada bahagian mihrab harus ada pintu. Maksudnya pintu itu antara lain khusus disediakan bagi imam untuk keluar masjid pergi beristirahat, dan kalau masih sanggup shalat akan menjadi makmun. Inilah ajaran etika dalam kepemimpinan dalam Islam, kalau sudah merasa tinggak sanggup lagi, akan dengan ikhlas akan minggir. Ketidak sanggupan itu ada yang nampak, namun ada yang tidak nampak. Semisal diserang batuk, itu adalah ketidak sanggupan yang kelihatan. Kalau mengeluarkan angin, wudhuk akan batal, shalatpun akan batal. Dan ini adalah ketidak bolehan memimpin shalat yang penyebabnya tidak dapat dipantau oleh makmun. Jadi etika kepemimpian menurut Islam seorang pemimpin akan dengan ikhlas menyingkir kalau sudah tidak sanggup atau tidak pantas lagi menjadi pemimpin, apakah ketidak sanggupan atau ketidak pantasan itu dapat dipantau atau tidak oleh para pengikutnya.

Seorang imam yang melakukan kesalahan, salah bacaannya atau salah gerakannya wajib ditegur oleh makmun. Kalau yang menegur itu laki-laki ucapan teguran itu adalah kalimah subhalLah, untuk gerakan yang salah, dan membacakan bacaan yang benar untuk membenarkan bacaan imam. Dan kalau yang menegur itu perempuan cukup dengan isyarat menepuk punggung tangan. Dan imam harus tunduk pada teguran, memperbaiki bacaannya atau memperbaiki gerakannya. Adapun nilai yang dapat disimak tentang kepemimpinan dan kepengikutan adalah seorang pengikut wajib menegur pemimpinnya. Namun cara menegur adalah harus sopan, tidak boleh brutal. Teguran dengan kalimah subhanalLah bermakna bahwa Allah Maha Suci, hanya Allah yang luput dari kesalahan. Adapun manusia itu tidak akan sunyi dari kesalahan. Pemimpin harus dengan ikhlas dan berlapang dada menerima teguran, karena teguran itu adalah untuk memperbaiki, bukan untuk menjatuhkan.

Sebaliknya, seorang makmum tidak boleh mendahului imam. Sebelum komando Allahu Akbar dikomandokan imam, makmum tidak boleh bergerak. Ini adalah ajaran kepengikutan menurut Islam, ketaatan pengikut kepada pemimpinnya.

Demikianlah nilai-nilai yang dapat disimak dari shalat tentang hal kepemimpinan dan kepengikutan, khususnya etika kepemimpian dan etika kepengikutan dalam hal membina komuniksi yang baik dan terbuka antara pemimpin dengan pengikut. WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 10 Januari 1993 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

8 Jenis Bahan Kain Untuk Membuat jaket levis double kerah

Jacket yakni pakaian fesyen luar yang panjang rata-rata takat pinggang atau pinggul, kebaikannya selama menahan angin dan menghangatkan batang tubuh jam hawa dingin. Model Jakcet buat lelaki dan perempuan umumnya bertikai, terpenting dari seleksian warna, penggalan dan tataannya.Jaket yakni pakaian fesyen luar yang panjang umumnya sampai pinggang atau pinggul, utilitasnya perlu menahan angin dan menghangatkan awak demi iklim dingin. Model Jaket menurut pria dan wanita umumnya divergen, terutama dari opsi warna, reduksi dan motifnya. Hampir segala Jaket memanfaatkan bukaan seraya resleting atau kancing pada biro pendahuluan yang terpatok dari leher sempadan ujung bawahnya. walakin, ada beberapa Jacket lagi yang tidak ada bukaan pada bentuk pendahuluannya. Selain modelnya, suku tujuan kain yang dipakai buat pembuatan Jaket serta beraneka segak. Mulai dari alamat Jakcet yang tipis dan tebal, ada lumayan yang anti air dan angin, engat petunjuk Jaket dari kulit alami. Tapi tidak seluruhnya ...

Halo Sahabat Inilah DiaKiat Memakai Busana Ihram bagi Lelaki dan Perempuan

Ihram yakni laksana seseorang yang selepas beniat menjelang merealisasikan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang membuat ihram disebut seraya istilah tunggal "muhrim" dan reguler "muhrimun". kadet jamaah haji dan umrah pantas memenuhinya sebelum di miqat dan diakhiri serupa tahallul. Baca juga: travel umroh jakarta timur seragam ihram yang digunakan ialah stelan suci yang tiada boleh dijahit (bagi laki-laki) dan disunnahkan berupa putih. karena mengenakan stelan ihram ini penting men catat dimulainya ibadah haji atau umrah dari dari miqatnya. selanjutnya desain memasang costum ihram: BAGI pria: busana ihram lega pria terdiri dari dua helai kain, satu eksemplar membalut awak dari pinggang had di kaki (gunung) lutut dan sehelai tambah diselempangkan tiba dari bahu kiri ke kolong ketiak kanan. Selengkapnya dapat dilihat ala gambar: 1.Pilihlah satu helai kain yang lebih panjang akan dipakai di penggalan kecil jasmani 2.Bentangkan status kedua kaki, lewat sarungkan kai...

Tahukah Anda Inilah DiaPetunjuk Memakai Baju Ihram bagi Pria dan Perempuan

Ihram yakni suasana seseorang yang selepas beniat menurut mengoperasikan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang mengaci-acikan ihram disebut sambil terma tunggal "muhrim" dan jamak "muhrimun". benih jamaah haji dan umrah mesti membandingkannya sebelum di miqat dan diakhiri bersama-sama tahallul. Baca juga: travel haji dan umroh jakarta setelan ihram yang digunakan ialah pakaian suci yang bukan boleh dijahit (bagi putra) dan disunnahkan berupa putih. pakai mengenakan seragam ihram ini berguna mengenali dimulainya ibadah haji atau umrah dari dari miqatnya. Berikut langgam menumpang stelan ihram: BAGI laki-laki: setelan ihram di pria terdiri dari dua carik kain, satu helai perih raga dari pinggang takat di lembah (bukit) lutut dan sehelai terus diselempangkan per dari bahu kiri ke kaki (gunung) ketiak kanan. Selengkapnya bisa dilihat tenang gambar: 1.Pilihlah satu lembar kain yang bertambah panjang perlu dipakai di pihak dasar jasmani 2.Bentangkan prestise kedua kaki,...