Langsung ke konten utama

Sikap Suka Membela kefasikan

Apa yang dikemukakan sebagai pembelaan terhadap tingkah fasiq  orang-orang Jawa Timur dengan cara merusak sarana-sarana Islam itu tampak sekali dibuat-buat. Hingga banyak pihak yang menyayangkan, kenapa pihak elit  (kiyai) NU ketika mengomentari  terjadinya anarkis yang dilakukan pendukung Gus Dur, jawabannya seolah mensahkan adanya perilaku anarkis itu. “Ya, mereka menunjukkan sikap marahnya”. Jawaban seperti ini bisa dilihat pada elit PKB atau NU seperti Matori Abdul Djalil dan bahkan presidennya sendiri. Mestinya kan bagaimana upaya meredam bukan malah ngompori.

   Tetapi begitulah. Dengan mengutip sebuah studi yang dilakukan Central for Democracy and Islamic Studies (CDIS) pada tahun 1998-2000 terhadap sejumlah elit (kiyai) NU Jawa Timur, Dr Yudi Latif, peneliti Paramadina Jakarta, mengungkap, selama dua tahun itu, elit NU membuat 281 pernyataan sikap di koran-koran, dengan isi; 188 kali (67%) berisi ancaman terhadap kelompok lain (terutama yang kritis terhadap kepemimpinan Presiden Wahid), 82 kali (29%) himbauan perdamaian, dan 11 kali ajakan rekonsiliasi pada semua kelompok. Di sini terlihat betapa tajam perbedaan dan perbandingan.
   Akhir kesimpulan penelitian tersebut adalah bahwa watak asli elit NU Jawa Timur sesungguhnya emosional, pemarah, dan pendendam, bahkan oportunis. 


   Meskipun kesimpulan itu mengandung kata-kata oportunis, namun menurut salah seorang pelakunya, yakni KHM Yusuf Hasyim, tidak demikian. Justru sebaliknya. Ia katakan: “...Ada persepsi di kalangan kaum Nahdliyin, di masa Orde Lama, mereka dipinggirkan, di era Orde Baru, mereka ditindas, bahkan di zaman Gus Dur jadi presiden pun mereka dikuyo-kuyo. Tak heran bila mereka akan melawan habis-habisan setiap usaha menurunkan Gus Dur.”

    Benarkah di setiap masa mereka nasibnya seperti itu? Pandangan lain pun dikemukakan oleh Prof Dr AM (Ahmad Muflih) Saefuddin, yang nama Saefuddin-nya ini adalah langsung dari Kiyai NU terkemuka di Pesantren Buntet Cirebon yaitu Mbah Kiyai Abbas. Apa kata Pak Sefuddin? Kurang lebihnya sebagai berikut: 

   “NU itu sholihun fi kulli zaman (baik dalam setiap zaman). Di zaman Soekarno atau Orde Lama, NU rangkulan dengan PKI. Itu Idham Chalid berangkulan dengan tokoh PKI Aidit. Lalu mereka membentuk yang namanya Nasakom (Nasional, Agama –NU—dan Komunis). Lalu zaman Soeharto atau Orde Baru mereka ramai-ramai ke Golkar. Dengan Golkar itu, mereka dipimpin KH Ahmad Siddiq “memperjuangkan” goalnya asas tunggal pancasila.  Mereka lalu dihajikan, atau diberi tiket haji, dibangun pesantrennya mungkin, lalu punya mobil dan sebagainya. Itu di Cirebon dekat saya, Pesantren Buntet yang Utara itu masuk Golkar, lalu yang Selatan tidak. Maka yang dapat duit ya yang Utara, sedang yang selatan tidak. Terus sekarang ini, yang tadinya Golkar itu ya masuk ke PKB. Dapat duit lagi, kira-kira. Mungkin kalau presidennya saya, mereka juga akan ke saya, ha haa...”

   Meskipun Pak AM Saefuddin itu orang yang suka bercanda, dan perkataan itu disertai tertawa, namun apa yang ia katakan –selain yang dugaan materi—adalah kenyataan yang diketahui umum. Bahkan Gus Dur atau Abdurrahman Wahid sendiri pun pernah menjadi anggota MPR dari Golkar, yang sebelumnya kelompok mereka tampaknya “berjasa” dalam menggembosi (mengempesi) partai Islam PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Awal mulanya bisa disimak dalam tulisan Gus Dur 1984 yang dikutip di buku ini yang berisi penolakan sejarah yang ditulis para sejarawan bahwa NU itu didirikan dalam rangka protes terhadap kaum pembaharu. Gus Dur juga menekankan agar orang NU jangan hanya berteman dengan satu saja yaitu PPP. Tulisan itu rupanya ditindak lanjuti dengan penggembosan massal terhadap PPP pada kampanye Pemilihan Umum 1987, setelah Gus Dur terangkat sebagai ketua umum PBNU sejak 1985. 

    Walaupun “perjuangan” orang NU sudah habis-habisan seperti itu, namun secara total, memang bisa dimengerti pula apa yang dikatakan Pak Yusuf Hasyim. Karena memang, di zaman Orde Baru orang Nahdliyin belum begitu mendapat apa-apa pula, kecuali mungkin sedikit. Padahal, dari segi jasanya, misalnya menyembelihi PKI  pemberontak ganas 1965 yang dulunya menyembilihi para ulama waktu pemberontakan PKI Madiun 1948, orang NU termasuk barisan depan. Karena NU tidak mendapatkan bagian apa-apa, kadang-kadang di tingkat percaturan sesama Muslim pun masih tidak mendapatkan apa-apa pula, hingga Gus Dur pernah “mengeluh”, Departemen Agama ketika dikuasai orang Muhammadiyah maka dari atas sampai bawah dipimpin orang Muhammadiyah semua. Tetapi rupanya berucap itu memang lebih mudah. Hingga, begitu Gus Dur terpilih jadi presiden (karena partai-partai Islam kesulitan, kalau sampai tidak memilih Gus Dur, maka suara PKB yang di DPR 54 orang mesti milih Megawati ketua PDI-P yaitu partai gabungan dari nasionalis dan palangis/ salibis, maka diambil jalan agar PKB tidak ke PDI-P, jalannya adalah dengan mengajukan Gus Dur, lalu parta-partai Islam/ poros tengah menang suara dibanding PDIP yang dalam angka sebagai pemenang pemilu), dirinya pun tidak bisa menjaga amanah. Hingga bukan hanya Departemen Agama yang diisi dengan orang NU, bahkan orang NU atau pendukung NU yang jebolan sastra pun dijadikan menteri riset dan teknologi, yang kelak bisa membela Gus Dur dalam menghalalkan yang diharamkan MUI, yaitu bumbu masak ajinomoto yang bibit fermentasi (ragi)nya disemaikan di lemak babi. 

    Kalau dihitung-hitung, sebenarnya terpinggirkannya orang nahdliyin itu hanyalah lantaran seluruh Ummat Islam dipinggirkan oleh penguasa dhalim. Lalu sisa sedikit yang diberikan kepada Islam oleh penguasa itu kebetulan dalam berebut sesama rekan, NU dijauhi, karena kadang-kadang tahu-tahu pro dengan musuh Islam. Akibatnya, sekalipun dari segi lahiriyah sampai tampak memalukan cara mendekat-dekatnya dengan penguasa, namun dari segi hasil nyata secara keseluruhan (bukan secara pribadi) hampir tidak ada. Dengan demikian, tampaknya sudah memalukan, namun hasilnya tak seberapa, kecuali mungkin untuk pribadi-pribadi. 

    Makanya, kalau Pak Yusuf Hasyim mengemukakan seperti tersebut di atas, memang bisa dimaklumi, ya kurang lebihnya seperti itu. Tetapi masalahnya, sampai kejadian seperti itu, sebenarnya bukan karena NU itu dipinggirkan, tetapi justru Islam inilah yang dipinggirkan, sedang NU “kurang sabar” terhadap peminggiran itu hingga mereka tampak mendekat-dekat kepada penguasa atau bahkan musuh Islam, namun tidak mendapatkan sesuatu yang diharapkan pula. Sementara itu dengan sesama Muslim pun sudah dianggap main belakang, karena memang kadang sampai aktif mengadakan pengempesan/ penggembosan massal terhadap partai Islam. Akibatnya, posisi NU antara terpelintir, terlibas, ataupun terpental. Yang musuh Islam menganggapnya sebagai teman tentu saja ya sekadar pura-pura. Yang berkuasa, menganggapnya sebagai pendukung setia juga hanya sebagai pendorong mobil mogok. 

Sedang yang teman seperjuangan yaitu Muslimin telah dikhianati, maka mau berteman dengan siapa lagi? Ya jalan yang ditempuh adalah dengan jalan menggalang kultus di kalangan anak buah, baik secara sadar ataupun tidak. Maka, katika kultus telah terbangun, sedang kesempatan pun telah terbuka lebar, tetapi kenyataannya figur yang dikultuskan dan dianggap sebagai raja yang berjasa membuka kesempatan malahan terancam digoyang, maka digerakkanlah massa yang telah terbina itu sehingga berwujud aksi hebat berupa aneka perusakan massal. Benarlah apa yang Pak Yusuf Hasyim kemukakan, hanya saja memang itu semua merupakan akibat dari tingkah polah elit NU yang membikin sulit sendiri terhadap jam’iyah dan warganya. Secara sadar atau tidak, warga Nahdliyin telah jadi korban dari kaum elitnya, baik secara politik, duniawi, maupun dari segi amaliyah ibadah dan i’tiqad keimanan. Bisa dibayangkan, betapa beratnya pertanggungan jawab para elit NU, sebenarnya. 

Dan itulah yang dibawa mati oleh para pendahulu maupun yang akan mati esok. Orang bisa bilang kasihan kepada ulama-ulama yang shaleh-shaleh, yang ikhlas, namun tidak didengar suaranya, karena kalah braok (keras suaranya) dibanding dengan yang bedigasan (banyak tingkah). Dan orang bisa menyayangkan kepada masyarakat yang tidak mendapatkan apa-apa, tetapi terjerumus kepada ‘ashobiyah  (fanatisme) yang disuntikkan demi kepentingan elit-elit yang bedigasan itu. Mereka masyrakat Muslim lemah itu kembali ke rumah masing-masing dengan aneka pikiran ruwet ekonomi, atap rumahnya bocor hingga tempat tidur dan lantai basah semua, anak-anak menangis karena lapar atau sakit, sedang mau mengutang duit ke tetangga, sekarang zamannya sudah berubah. Tolong-menolong sudah terkikis, kelembutan hati berupa kasih sayang sudah hampir musnah, pandangan mata kasih sayang sudah berganti dengan mata merah mendelik penuh curiga bahkan mau memangsa. Kesedihan orang-orang kecil makin terasa, namun masih dijerumuskan pula hanya demi mengangkat dan melanggengkan keserakahan hawa nafsu orang-orang yang bedigasan itu. Makanya seribu kali diadakan apa yang mereka sebut istighotsah hasilnya justru kefasikan secara massal, yaitu perusakan masjid, sarana ibadah dan sarana pendidikan Islam.

    Allah memberi pelajaran nyata kepada kita, namun kita tampaknya tidak mau tahu, karena telah terbius oleh hawa nafsu yang kita turuti semau-maunya. Hingga secara massal justru syetan-syetan elit telah menjerumuskan kita ke arah yang lebih jauh lagi, lupa terhadap peringatan-peringatan Allah SWT. Setiap kesalahan kita selalu ditutup-tutupi, sehingga sampai kita berbuat yang paling salah pun masih mereka tutup-tutupi, agar kita tidak kembali ke jalan Allah, tetapi kembali terus menerus mendukung mereka.
    

Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

8 Jenis Bahan Kain Untuk Membuat jaket levis double kerah

Jacket yakni pakaian fesyen luar yang panjang rata-rata takat pinggang atau pinggul, kebaikannya selama menahan angin dan menghangatkan batang tubuh jam hawa dingin. Model Jakcet buat lelaki dan perempuan umumnya bertikai, terpenting dari seleksian warna, penggalan dan tataannya.Jaket yakni pakaian fesyen luar yang panjang umumnya sampai pinggang atau pinggul, utilitasnya perlu menahan angin dan menghangatkan awak demi iklim dingin. Model Jaket menurut pria dan wanita umumnya divergen, terutama dari opsi warna, reduksi dan motifnya. Hampir segala Jaket memanfaatkan bukaan seraya resleting atau kancing pada biro pendahuluan yang terpatok dari leher sempadan ujung bawahnya. walakin, ada beberapa Jacket lagi yang tidak ada bukaan pada bentuk pendahuluannya. Selain modelnya, suku tujuan kain yang dipakai buat pembuatan Jaket serta beraneka segak. Mulai dari alamat Jakcet yang tipis dan tebal, ada lumayan yang anti air dan angin, engat petunjuk Jaket dari kulit alami. Tapi tidak seluruhnya ...

Halo Sahabat Inilah DiaKiat Memakai Busana Ihram bagi Lelaki dan Perempuan

Ihram yakni laksana seseorang yang selepas beniat menjelang merealisasikan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang membuat ihram disebut seraya istilah tunggal "muhrim" dan reguler "muhrimun". kadet jamaah haji dan umrah pantas memenuhinya sebelum di miqat dan diakhiri serupa tahallul. Baca juga: travel umroh jakarta timur seragam ihram yang digunakan ialah stelan suci yang tiada boleh dijahit (bagi laki-laki) dan disunnahkan berupa putih. karena mengenakan stelan ihram ini penting men catat dimulainya ibadah haji atau umrah dari dari miqatnya. selanjutnya desain memasang costum ihram: BAGI pria: busana ihram lega pria terdiri dari dua helai kain, satu eksemplar membalut awak dari pinggang had di kaki (gunung) lutut dan sehelai tambah diselempangkan tiba dari bahu kiri ke kolong ketiak kanan. Selengkapnya dapat dilihat ala gambar: 1.Pilihlah satu helai kain yang lebih panjang akan dipakai di penggalan kecil jasmani 2.Bentangkan status kedua kaki, lewat sarungkan kai...

Tahukah Anda Inilah DiaPetunjuk Memakai Baju Ihram bagi Pria dan Perempuan

Ihram yakni suasana seseorang yang selepas beniat menurut mengoperasikan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang mengaci-acikan ihram disebut sambil terma tunggal "muhrim" dan jamak "muhrimun". benih jamaah haji dan umrah mesti membandingkannya sebelum di miqat dan diakhiri bersama-sama tahallul. Baca juga: travel haji dan umroh jakarta setelan ihram yang digunakan ialah pakaian suci yang bukan boleh dijahit (bagi putra) dan disunnahkan berupa putih. pakai mengenakan seragam ihram ini berguna mengenali dimulainya ibadah haji atau umrah dari dari miqatnya. Berikut langgam menumpang stelan ihram: BAGI laki-laki: setelan ihram di pria terdiri dari dua carik kain, satu helai perih raga dari pinggang takat di lembah (bukit) lutut dan sehelai terus diselempangkan per dari bahu kiri ke kaki (gunung) ketiak kanan. Selengkapnya bisa dilihat tenang gambar: 1.Pilihlah satu lembar kain yang bertambah panjang perlu dipakai di pihak dasar jasmani 2.Bentangkan prestise kedua kaki,...