Kita dapat membagi ajaran tasawuf yang ekstrem ke dalam tiga sekte:
Pertama, sekte
Al Isyraqi, sekte ini didominasi oleh ajaran filsafat bersama
sifat zuhud. Yang dimaksud dengan Al Isyraqi (penyinaran) adalah penyinaran jiwa
yang memancarkan cahaya dalam hati, sebagai hasil dari pembinaan jiwa dan
penggemblengan ruh disertai dengan penyiksaan badan untuk membersihkan dan
menyucikan ruh, yang ajaran ini sebenarnya ada pada semua sekte-sekte tasawuf,
akan tetapi ajaran sekte ini cuma sebatas pada penyimpangan ini dan tidak sampai
membawa mereka kepada ajaran Al Hulul (menitisnya Allah ‘Azza wa Jalla
ke dalam diri makhluk-Nya) dan Wihdatul Wujud (bersatunya wujud Allah ‘Azza wa Jalla dengan wujud
makhluk/Manunggaling Gusti
ing Kawulo – Maha Suci Allah dari
apa yang mereka sifatkan), meskipun demikian ajaran sekte ini bertentangan
dengan ajaran islam, karena ajaran ini diambil dari ajaran agama-agama lain yang
menyimpang, seperti agama Budha dan Hindu.
Kedua,
sekte
Al Hulul, yang berkeyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla
bisa bertempat/menitis dalam diri manusia –Maha Suci Allah ‘Azza wa
Jalla dari sifat ini-. Keyakinan ini diserukan oleh beberapa tokoh-tokoh
ekstrem ahli Tasawuf, seperti Hasan bin Manshur Al Hallaj, yang karenanya para
Ulama memfatwakan kafirnya orang ini dan dia harus dihukum mati, yang kemudian
dia dibunuh dan disalib –Alhamdulillah ‘Azza wa Jalla - pada tahun 309 H. Dan di dalam Sya’ir yang
dinisbatkan kepadanya dia berkata (kitab At Thawasiin, tulisan Al Hallaj hal.130):
Maha
suci (Allah ‘Azza wa Jalla ) yang Nasut (unsur/sifat kemanusiaan)-Nya telah
menampakkan rahasia cahaya Lahut (unsur/sifat ketuhanan)-Nya yang
menembus
Lalu
Tampaklah Dia dengan jelas pada (diri) makhluk-Nya
dalam bentuk seorang yang sedang makan dan sedang minum
Hingga (sangat jelas) Dia terlihat oleh makhluk-Nya
seperti (jelasnya) pandangan alis mata dengan alis mata
dalam bentuk seorang yang sedang makan dan sedang minum
Hingga (sangat jelas) Dia terlihat oleh makhluk-Nya
seperti (jelasnya) pandangan alis mata dengan alis mata
Dalam sya’ir lain (kitab
Al Washaaya, tulisan Ibnu ‘Arabi (hal.27), -Maha Suci Allah
‘Azza wa Jalla dari sifat-sifat kotor yang mereka sebutkan-) dia
berkata:
Aku
adalah yang mencintai dan yang mencintai adalah aku
kami adalah dua ruh yang bertempat di dalam satu jasad
Maka jika kamu melihatku (berarti) kamu melihat Dia
Dan jika kamu melihat Dia (berarti) kamu melihat kami
kami adalah dua ruh yang bertempat di dalam satu jasad
Maka jika kamu melihatku (berarti) kamu melihat Dia
Dan jika kamu melihat Dia (berarti) kamu melihat kami
Memang Al Hallaj -seorang tokoh besar
dan populer di kalangan orang-orang ahli tasawuf ini- adalah penganut sekte Al
Hulul, dia meyakini dualisme hakikat ketuhanan dan beranggapan bahwa
Al Ilah (Allah ‘Azza wa Jalla ) memiliki dua tabiat yaitu:
Al Lahut (unsur/sifat ketuhanan) dan An Nasut (unsur/sifat kemanusiaan/kemakhlukan), yang kemudian
Al Lahut menitis ke dalam An Nasut, maka ruh manusia –menurut Al Hallaj- adalah Al Lahut ketuhanan yang sebenarnya dan badan manusia itu adalah
An Nasut.
Kemudian meskipun bandit besar ini telah
dihukum mati karena kezindiqannya –sehingga sebagian orang-orang ahli tasawuf
menyatakan berlepas diri darinya -, tetap saja ada orang-orang ahli tasawuf yang
menganggapnya sebagai tokoh besar ahli tasawuf, bahkan mereka membenarkan
keyakinan sesat dan perbuatannya, dan mengumpulkan serta membukukan
ucapan-ucapan kotornya, mereka itu di antaranya adalah Abul ‘Abbas bin ‘Atha’ Al
Baghdadi, Muhammad bin Khafif Asy Syirazi dan Ibrahim An Nashrabadzi,
sebagaimana hal tersebut dinukil oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam kitab beliau
Tarikh Al Baghdad (8/112).
Ketiga,
sekte
Wihdatul Wujud, yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada
hakikatnya adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini
tidak lain merupakan perwujudan/penampakan Zat Ilahi (Allah ‘Azza wa Jalla
) – maha suci Allah ‘Azza wa Jalla dari segala keyakinan kotor
mereka-. Dedengkot sekte ini adalah Ibnu ‘Arabi Al Hatimi Ath Thai (Nama
lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath Thai Al
Hatimi Al Mursi Ibnu ‘Arabi, yang binasa pada tahun 638 H dan dikuburkan di
Damaskus. (Lihat Siar Al
A’lam An Nubala’ tulisan
Imam Adz Dzahabi 16/354)
Dalam kitabnya Al Futuhat Al Makkiyah
(seperti yang dinukilkan oleh DR.
Taqiyuddin Al Hilali dalam kitabnya Al Hadiyyatul
Haadiyah hal. 43) dia menyatakan keyakinan
kufur ini dengan ucapannya:
Hamba adalah tuhan dan tuhan adalah hamba
duhai gerangan, siapakah yang diberi tugas (melaksanakan syariat)?
Jika kau katakan: hamba, maka dia adalah tuhan
Atau kau katakan: tuhan, maka mana mungkin tuhan diberi tugas?!
duhai gerangan, siapakah yang diberi tugas (melaksanakan syariat)?
Jika kau katakan: hamba, maka dia adalah tuhan
Atau kau katakan: tuhan, maka mana mungkin tuhan diberi tugas?!
Dan dalam kitabnya yang lain
Fushushul Hikam (hal.192) dia ngelindur: “Sesungguhnya orang-orang yang
menyembah anak sapi, tidak lain yang mereka sembah kecuali
Allah.”
Meskipun demikian, orang-orang ahli Tasawuf malah
memberikan gelar-gelar kehormatan yang tinggi kepada Ibnu ‘Arabi, seperti gelar
Al ‘Arif Billah (orang yang mengenal Allah ‘Azza wa Jalla
dengan sebenarnya), Al
Quthb Al Akbar (pemimpin para wali
yang paling agung), Al Misk
Al Adzfar (minyak kesturi yang
paling harum), dan Al
Kibrit Al Ahmar (Permata yang merah
berkilau), padahal orang ini terang-terangan memproklamirkan keyakinan Wihdatul Wujud dan keyakinan-keyakinan kufur dan rusak lainnya,
seperti pujian dia terhadap Firaun dan keyakinannya bahwa Firaun mati di atas
keimanan, celaan dia terhadap Nabi Harun ‘alaihi
salam yang mengingkari kaumnya yang
menyembah anak sapi -yang semua ini jelas-jelas bertentangan dengan nash Al
Quran-, dan keyakinan dia bahwa kafirnya orang-orang Nasrani adalah karena
mereka hanya mengkhususkan Nabi ‘Isa ‘alaihi salam sebagai Tuhan, yang kalau seandainya mereka tidak mengkhususkannya maka
mereka tidak dikafirkan.
*****
[3] Ringkasan dari satu
pembahasan yang ditulis oleh DR. Muhammad bin Rabi’ Al Madkhali dalam kitabnya
“Haqiqat Ash
Shufiyyah” (hal. 18-21), dengan
sedikit perubahan
HAKIKAT TASAWUF
Oleh :Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
(Mahasiswa S2 Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah)
Kunjungi juga:

Komentar
Posting Komentar