Langsung ke konten utama

Euphemisme Tanpa Bingkai?

Dalam kesusasteraan lama biasa kita temui gaya simbolik untuk menghaIuskan ungkapan. Seperti misalnya dalam Kaba Cindue Mato dan dongeng Sangkuriang. Kaba adalah bentuk kesusateraan yang bergaya prosa berirama. Dalam prosa lirik Cindur Mata itu tersebutlah bahwa Bundo Kanduang, Ratu Pagarruyuang dan dayangnya diberi minum kelapa oleh sahaya istana. Keduanya lalu mengandung. Bunda Kandung melahirkan Dang Tuanku dan sang dayang melahirkan Cindur Mata. Ini adalah ungkapan penghalusan yaitu Dang Tuanku dengan Cindur Mata bersaudara tiri sebapak dengan yang sahaya istana. Keduanya masing-masing beribukan Ratu Kerajaan Pagarruyung dan dayang istana. Demikian pula dalam dongeng Sangkuriang tersebut seorang anak raja yang pergi berburu kencing di atas daun keladi, kemudian datang seekor babi ménjilat daun keladi yang basah dengan air kencing anak raja itu. Babi itu hamil, kemudian melahirkan Dayang Sumbi, ibu Sangkuriang. Ini adalah gaya penghalusan dilihat dan segi ukuran feodalisme. Anak raja yang berburu di hutan itu jatuh cinta kepada anak gadis orang utas, perambah hutan menurut istilah sekarang. Dari kacamata feodalisme, orang utas yang rakyat jelata itu dianggap hina disamakan dengan babi.

Kalau menyangkut kata, maka gaya penghalusan itu disebut euphemisme. Seperti misalnya ungkapan yang serba tuna, tuna wisma untuk gelandangan, tuna karya untuk penganggur, tuna daksa untuk cacat tubuh, tuna grahita untuk cacat mental, tuna rungu untuk bisu-tuli, tuna netra untuk buta, dan tuna susila atàu menurut H. Dg.Mangemba tunasila untuk pelacur. (Menurut H.Dg.M. su artinya baik, jadi susila artinya sila yang baik, jadi kalau digabung dengan tuna, maka su harus dihilangkan, lalu menjadilah Tunasila). Kelihatannya sudah menggejala euphemisme ini tanpa batas, sehingga sudah ada nada protes menyindir. Pemabuk disebut dengan sindiran tuna saqring. Ini bahasa daerah Makassar tu nasaqring, arti harfiahnya orang yang alergi. Nasaqringi doang artinya alergi terhadap udang, nasaqringi atau nabengoi ballo', artinya alergi terhadap tuak, mabuk karena tuak.

Terkadang euphemisme ini menjurus pada ketidak jujuran. Yaitu menyembunyikan sesuatu dengan label atau bungkusan. Bahkan perihal bungkus-membungkus yang mencerminkan sikap ketidak-jujuran ini sudah merambat ke wawasan yang formal. Apa yang dibungkus dibalik kata sumbangan dalam SDSB dan SPP? Bukankah istilah judi itu disembunyikan di balik kata sumbangan? Mengapa tidak sejara jujur saja dikatakan uang sekolah?

Seharusnya euphemisme ini ada batasnya. Yang jelek dalam hubungannya dengan kesusilaan tidak perlu gaya euphemisme. Pelacur, banci, tidak usah dihaluskan. Sebab kalau dihaluskan yang bersangkutan tidak akan merasa malu bertingkah demikian. Maka tetaplah dikatakan pelacur, tidak usah dihaluskan menjadi tuna susila atau tuna sila, kalau perlu yang vulgar, lonte, cabo. Tidak usalah dihaluskan menjadi hadam, eh wadam, waria, melainkan tetaplah banci, bencong, atau usahakanlah bahasa daerah calabai menjadi kosa kata bahasa Indonesia. Melanggar HAM? Yaitu melanggar hak untuk diperlakukan secara adil? Artinya kalau yang lain diperlakukan dengan penghalusan tuna, mengapa pelacur tidak boleh? Menurut saya gaya euphemisme yang menyangkut penyelewangan melanggar KAM, Kewajiban Asasi Manusia: Amar Ma'ruwf Nahie Munkar, menyuruh arif bijaksana, mencegah penyelewengan. Mengatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah. Tidak menyembunyikan yang salah itu dibalik bungkusan kebenaran yang semu. Mengatakan judi itu judi, tidak menyembunyikannya di balik label sumbangan berhadiah.

Walhasil euphemisme itu perlu diberi berbingkài dengan nilai bayan, kejelasan, clarity. Dengarlah Firman Allah dalam Al Quran, tentang Al Bayan:
-- Ya- Ayyuha Lladziyna A-manuw Innama lKhamru wa IMaysiru wa lAnshaabu wa lAzlaamu Rijsun Min 'Amali sySyaythaani fa Jtanibuwhu La'allkum Tuflihuwn (S. Al Maaidah, 90). Hai orang orang beriman, sesungguhnya minuman keras, judi, sesembahan untuk berhala, undian nasib, adalah kotor, termasuk hasil perbuatan setan, maka jauhilah akan dia. WaLlahu a'lamu bisshawab.

*** Makassar, 14 November 1993 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

8 Jenis Bahan Kain Untuk Membuat jaket levis double kerah

Jacket yakni pakaian fesyen luar yang panjang rata-rata takat pinggang atau pinggul, kebaikannya selama menahan angin dan menghangatkan batang tubuh jam hawa dingin. Model Jakcet buat lelaki dan perempuan umumnya bertikai, terpenting dari seleksian warna, penggalan dan tataannya.Jaket yakni pakaian fesyen luar yang panjang umumnya sampai pinggang atau pinggul, utilitasnya perlu menahan angin dan menghangatkan awak demi iklim dingin. Model Jaket menurut pria dan wanita umumnya divergen, terutama dari opsi warna, reduksi dan motifnya. Hampir segala Jaket memanfaatkan bukaan seraya resleting atau kancing pada biro pendahuluan yang terpatok dari leher sempadan ujung bawahnya. walakin, ada beberapa Jacket lagi yang tidak ada bukaan pada bentuk pendahuluannya. Selain modelnya, suku tujuan kain yang dipakai buat pembuatan Jaket serta beraneka segak. Mulai dari alamat Jakcet yang tipis dan tebal, ada lumayan yang anti air dan angin, engat petunjuk Jaket dari kulit alami. Tapi tidak seluruhnya ...

Halo Sahabat Inilah DiaKiat Memakai Busana Ihram bagi Lelaki dan Perempuan

Ihram yakni laksana seseorang yang selepas beniat menjelang merealisasikan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang membuat ihram disebut seraya istilah tunggal "muhrim" dan reguler "muhrimun". kadet jamaah haji dan umrah pantas memenuhinya sebelum di miqat dan diakhiri serupa tahallul. Baca juga: travel umroh jakarta timur seragam ihram yang digunakan ialah stelan suci yang tiada boleh dijahit (bagi laki-laki) dan disunnahkan berupa putih. karena mengenakan stelan ihram ini penting men catat dimulainya ibadah haji atau umrah dari dari miqatnya. selanjutnya desain memasang costum ihram: BAGI pria: busana ihram lega pria terdiri dari dua helai kain, satu eksemplar membalut awak dari pinggang had di kaki (gunung) lutut dan sehelai tambah diselempangkan tiba dari bahu kiri ke kolong ketiak kanan. Selengkapnya dapat dilihat ala gambar: 1.Pilihlah satu helai kain yang lebih panjang akan dipakai di penggalan kecil jasmani 2.Bentangkan status kedua kaki, lewat sarungkan kai...

Tahukah Anda Inilah DiaPetunjuk Memakai Baju Ihram bagi Pria dan Perempuan

Ihram yakni suasana seseorang yang selepas beniat menurut mengoperasikan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang mengaci-acikan ihram disebut sambil terma tunggal "muhrim" dan jamak "muhrimun". benih jamaah haji dan umrah mesti membandingkannya sebelum di miqat dan diakhiri bersama-sama tahallul. Baca juga: travel haji dan umroh jakarta setelan ihram yang digunakan ialah pakaian suci yang bukan boleh dijahit (bagi putra) dan disunnahkan berupa putih. pakai mengenakan seragam ihram ini berguna mengenali dimulainya ibadah haji atau umrah dari dari miqatnya. Berikut langgam menumpang stelan ihram: BAGI laki-laki: setelan ihram di pria terdiri dari dua carik kain, satu helai perih raga dari pinggang takat di lembah (bukit) lutut dan sehelai terus diselempangkan per dari bahu kiri ke kaki (gunung) ketiak kanan. Selengkapnya bisa dilihat tenang gambar: 1.Pilihlah satu lembar kain yang bertambah panjang perlu dipakai di pihak dasar jasmani 2.Bentangkan prestise kedua kaki,...