Ada istilah “Pagi kedelai sore tempe” yang dalam bahasa Jawa merupakan ungkapan
untuk mensifati sikap ataupun omongan orang yang berubah-ubah dengan cepat.
Biasanya dikatakan, “esuk dele sore tempe” (pagi kedelai sore tempe)
terhadap orang yang pendiriannya ataupun ucapannya sulit dipegangi. Dalam bahasa
agama disebut tidak istiqomah.
Kalau sikap itu menyangkut keimanan, maka Allah
SWT sangat mengecamnya, sedang Nabi Muhammad saw sangat memperingatkan agar
Ummat Islam hati-hati sekali dan waspada apabila ada suasana berganti-gantinya
sikap seseorang dari iman ke kafir.
Allah SWT berfirman:
وإذا
لقوا لذين
إنما نحن مستهزءون. (البقرة: 14).
يعمهون. (البقرة: 15).
“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang
beriman, mereka mengatakan: ”Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada
syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan
kamu, kami hanyalah berolok-olok”.
Allah akan (membalas) olok-olokan
mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan
mereka.” (QS Al-Baqarah:
14,15).
Nabi saw bersabda:
بادروا بالأعمال فتنا كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمنا ويمسي كافرا،
ويمسي مؤمنا ويصبح كافرا، يبيع أحدهم دينه بعرض من الدنيا قليل. (روا أحمد ومسلم و
الترمذي عن أبي هريرة صحيح).
“Bersegeralah kamu sekalian dengan beramal
(kebajikan, sebelum datangnya) cobaan-cobaan (yang menghitam) seperti
potongan-potongan malam yang menghitam, seorang lelaki waktu pagi beriman sedang
waktu sore ia menjadi kafir
dan waktu sore dia beriman sedang waktu
pagi dia menjadi kafir, seseorang dari mereka menjual agamanya dengan harta
dunia yang sedikit.” (Hadits Riwayat
Ahmad, Muslim, dan At-Tirmidzi, dari Abu Hurairah, shahih).
Kecaman Allah SWT tersebut di atas ditujukan kepada
orang-orang munafiq, sedang sabda Nabi saw itu ditujukan kepada orang Muslim,
agar bersegera beramal kebajikan sebelum datangnya cobaan-cobaan yang gelapnya
bagai potongan-potongan malam. Cepatnya orang berubah, pagi beriman sore kafir,
dan sore beriman pagi kafir adalah karena menjual agamanya untuk memperoleh
kesenangan/ harta dunia yang nilainya sangat sedikit.
Yang munafiq dikecam Allah SWT itu memang dari jenis
kafir, namun yang diperintahkan agar cepat-cepat beramal kebaikan itu adalah
jenis Muslim, yang godaan besarnya adalah kesenangan dunia.
Orang kafir-munafiq bersikap seperti yang diungkap
Al-Qur’an itu adalah demi mempertahankan kekafirannya. Sedang orang Muslim yang
digambarkan Nabi saw menjual agamanya itu adalah demi tujuan dunia. Antara
mempertahankan kekafiran dan tujuan harta dunia, apabila bergabung jadi satu
maka akan menjadi satu sikap yang amat cepat berubah-ubahnya, pagi beriman sore
kafir, atau sore beriman pagi kafir.
Demikian pula apabila seseorang mempertahankan
ideologinya yang tak sesuai dengan Islam, sikapnya yang tak sesuai dengan Islam,
misalnya sikap ashobiyah (fanatik golongan), fanatik Kiyai, atau bahkan
fanatik dalam mempertahankan bid’ah-bid’ah yang diajarkan kiyai-kiyai mereka
ataupun tradisi nenek moyang yang tak sesuai dengan Islam itu sudah cukup
menjadikan dia bisa bersikap pagi beriman sore menirukan orang kafir. Sore
beriman, paginya menirukan orang kafir.
Sikap ashobiyah/ fanatik golongan ataupun
mempertahankan tradisi yang tak sesuai dengan Islam itu sendiri apabila
bergabung jadi satu dalam diri seseorang, maka volume berubah-ubahnya sikap pun
tambah cepat. Hingga pagi ia beriman, sore sudah cepat-cepat menirukan orang
kafir. Sore beriman, paginya sudah cepat-cepat menirukan orang kafir.
Selanjutnya, apabila adonan ashobiyah plus
bid’ah, plus mempertahankan adat istiadat nenek moyang yang tak sesuai dengan
Islam, lalu disertai dengan menjual agamanya untuk kepentingan kesenangan/ harta
dunia; maka betapa cepatnya orang itu berubah-ubah. Pagi kedelai, sore tempe;
esuk dele, sore tempe.
Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga:

Komentar
Posting Komentar